Tarling

Kesenian tarling pada awalnya merupakan sebuah kebiasaan dan hobi yang dilakukan oleh sekelompok pemuda di daerah Indramayu. Ketika itu , pada sekitar tahun 1945-an, Djajana bersama kawan-kawannya sering berkumpul di sebuah warung kopi sampil memetik gitar dengan nyanyian klasik Dermayonan secara improvisasi. Ketertarikan masyarakat pada petikan gitas dengan diiringi tembang dermayonan membuat masyarakat sering meminta untuk dihibur pada waktu begadang baik ngobrol di warung kopi maupun ketika mengadakan kegiatan lain seperti dalam kegiatan pembakaran bata, dan sebagainya. Sebagai imbalannya, Djajana dan kawan-kawan hanya diberi rokok dan air kopi.

Dalam perkembangannya, gitar itu dipadukan dengan tiupan suling yang kemudian memberikan nuansa lain dari perpaduan kedua instrumen tersebut. Karena perpaduan kedua instrumen tersebut ternyata disukai masyarakat, maka kira-kira pada tahun 1950-an, Djajana bersama rekan-rekannya mendirikan kelompok musik yang diberi nama “Melodi Kota Ayu”.

Alat-alat yang digunakan oleh Djajana dan kawan-kawannya dalam kelompok musiknya di antaranya adalah gitar, suling, kendang kecil, dan gong buyung. Dengan semakin terkenalnya musik Djajana ini, maka pada tahun 1954 kelompok musiknya diangkat ke panggung –panggung rakyat dengan menambahkan beberapa alat musik seperti kendang besar, kecrek, tutukan dan satu set gong. Juga penambahan lain adalah hadirnya pesinden atau biduanita yang di ambil dari kesenian dombret.

Sementara itu, di daerah Cirebon, H. Abdul Adjib ikut meramaikan kesenian rakyat Cirebon dengan mendirikan grup kesenian yang diberi nama “Melodi Kota Udang “ yang langsung menjadi acara pokok di stasiun RRI Cirebon. Sejak saat itu, kepala studio RRI Cirobon memberi nama pada kesenian ini dengan nama Tarling, yang diambil dari kata gitar dan suling sebagai dua alat musik yang mendominasi pertunjukan kesenian tersebut.

Dengan munculnya jenis kesenian tarling sebagai kesenian baru dan dikenal oleh masyarakat luas (wilayah III Cirebon), Djajana pun di Indramayu mendirikan grup tarling dengan nama “Warga Budaya”. Rombongan tarling Djajana ini mengalami perkembangan yang cukup pesat, baik dari sisi pertunjukan maupun perlengkapan keseniannya. Beberapa karya lagu tarling yang diciptakan Djajana diantaranya Banyu Mata Mbrebbes Mili, Yula-Yuli, Padang Wulan, Pasrah Pati Njaluk Urip dan lain-lain. Di samping lagu, diciptakan pula kiser (lakon yang dinyanyikan ) seperti Kiser Saida Saeni, Pegat Balen, Lahir Batin dan lain-lain.

Sementara itu, H. Abdul Adjib pun di Cirebon mendirikan kelompok tarling “Putra Sangkala” dengan dukungan ayahnya. Dalam pertunjukannya, kelompok ini menyajikan lagu-lagu Kiser ciptaan Palimanan, Kabupaten Cirebon, muncul pula grup tarling “Karya Muda” yang dipimpin oleh Sunarto Martaatmaja. Grup tarling ini menyajikan pertunjukan lakon Kiser dengan beberapa pelaku dalam bentuk sebuah drama pendek.

Pada tahun 1965, grup “Karya Muda “ berganti nama menjadi grup “Proletar”, akan tetapi nama ini berlangsung tidak lama, karena pada waktu itu meletus peristiwa G30S/PKI dan nama itupun berubah menjadi “Nada Jaya”. Selanjutnya, grup ini bergabung dengan “Tarling Asmara Budaya” yang dipimpin oleh Barnawi di Desa Wangunarja, Kecamatan Klangenan, cirebon, dan nama dari kedua grup tarling ini dilebur menjadi “Nada Budaya” hingga saat ini.

Pada tahun 1966, grup tarling “Nada Budaya” dan “Putra Sangkala” berkembang pesat dengan banyaknya menciptakan lakon-lakon drama dalam setiap pertunjukannya. Pertunjukan tarling menjadi sangat populer di kalangan masyarakat Cirebon dan Dermayon, sehingga memicu bermunculannya grup – grup tarling baru di daerah Cirebon dan Indramayu. Beberapa lakon y ang sangat populer dalam pertunjukan tarling diantaranya Marta Bakrun, Baridin, Saidah Saeni dan lain-lain.

Hingga saat ini kesenian tarling masih tetap diminati masyarakat Cirebon dan Indramayu, terutama dalam bangunan lkon yang diambil dari kehidupan sehari-hari masyarakat sekitarnya. Namun, dewasa ini, bebera segi pertunjukannya sudah mengalami perkembangan modern, terbukti denagn adanya sentuhan-sentuhan musik dangdut dan peralatan-peralatan musik modern, yang biasanya juga mendominasi sebuah pertunjukan tarling.

Yang cukup mencengangkan, tarling di daerah Cirebon dan Indramayu sekarang sedang dalam proses berkembang menjadi dua model pertunjukan. Pertama, perntunjukan yang menampilakan lakon; dan kedua; pertunjukan yang secara utuh dikemas dalam bentuk musik (terutama musik dangdut Cirebonan). Dengan demikian perkembangan kesenian tarling merupakan contoh nyata betapa tingginya kreativitas masyarakat di Tatar Sunda in.

Sumber: Enoch Atmadibrata,”Khazanah Seni Pertunjukan Jawa Barat”, Disbudpar-Yayasan Kebudayaan Jaya Loka,Bandung,2006