Gegel Jubleg

Gegel Jubleg merupakan salah satu kesenian khas tradisional masyarakat Sunda di Garut tepatnya kesenian ini berkembang di daerah Cisewu Menurut beberapa cerita yang berkembang kesenian Gegel Jubleg sudah ada sejak zaman ko lonial Belanda dan pada saat di zaman itu kesenian Gegel Jubleg dimainkan untuk menakut nakuti para penjajah yang masuk ke wilayah Cisewu, setelah melewati zaman itu, Kesenian Gegel Jubleg suka ditampilkan pada acara acara tertentu yang menyangkut kebudayaan Sunda , seperti pementasan hajatan , festival budaya, dan hari besar kemerdekaan.

Nama kesenian ini berasal dari bahasa Sunda Gegel yang berarti “menggigit” dan Jubleg yang berarti tempat menumbuk padi dan bumbu. Gegel Jubleg merupakan salah satu termasuk dalam kesenian dengan atraksi ekstrim dan bisa dibilang kedalam kesenian aliran Debus. Karena para senimannya yang menunjukan kegigihan dengan menggigit Jubleg kayu yang beratnya 25 kg
sampai 30 kg. Di lansir dari laman Jabar Quick Respon bahwa sebelum para seniman bermain Gegel Jubleg dengan menggigit kayu yang berat, mereka terlebih d ahulu akan di doakan oleh sesepuh di daerahnya. Para pemain terdiri dari laki laki dan perempuan, tidak sembarang orang untuk bisa memainkannya, mereka sudah terlatih dan profesional. Seni gegel jubleg merupakan sebuah jenis kesenian yang berakar dari seni debus yang dikemas menjadi jenis kesenian helaran magis, jenis kesenian ini tidaklah bisa dilepaskan dari unsur mistis yang sudah lama berkembang dinusantara. Gegel jubleg merupakan jenis kesenian panca warna. Kesenian panca warna merupakan sebutan pada kesenian yang memuat berbagai jenis kesenian, yang dihimpun dalam satu grup yang dapat dipentaskan dalam satu waktu. Gun Gun .N (2023).

Kesenian Gegel Jubleg merupakan salah satu pertunjukan budaya yang menampilkan seluruh segi kehidupan manusia, seperti para senimannya yang mempertunjukan gerakan gerakan pencat silat dan gerakan tari dengan memegang atau menggigit Jubleg tempat menumbuk padi dan rempah . Cara menggit jubleg jayu itu, mereka menancapkan paku di bagian bawah lumpang kayu yang dilapisi kain. Mereka menggunakan atribut berupa pakaian tradisional dan totopong atau dan totopong atau blangkon ikablangkon ikatt,, serta di iringi musik dan nyanyian Sundaserta di iringi musik dan nyanyian Sunda.. Dibubuhi juga oleh Dibubuhi juga oleh seni reog, angklung, seni reog, angklung, terompet sunda, terompet sunda, bahkan kendang pencabahkan kendang pencakk dan di bubuhi juga oleh seni Reog.dan di bubuhi juga oleh seni Reog. Tak jarang juga dicampuri atraksi gesrek atau debusan. Untuk lebih menghidupkan suasana Tak jarang juga dicampuri atraksi gesrek atau debusan. Untuk lebih menghidupkan suasana pertunjukan.pertunjukan.

Contributor: Muhammad Azhari Khairunnas

Surak Ibra

Surak Ibra terdapat di Kampung Sindangsari, Desa Cinunuk Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut serta di Kabupaten Tasikmalaya. Kesenian surak ibra juga sering disebut seni boboyongan. Mengapa kesenian ini di senbut surak ibra?

Asal-usul kesenian ini bermula dari seorang tokoh silat yang be3rnama Ibra. Ia pesilat legendaris yang hidup pada awal aad ke-19 di Kampung Cipanas, Desa Wanakerta, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut.

Angklung Badeng

Badeng merupakan jenis kesenian yang menekankan segi musikalitasnya dengan angklung sebagai alat musik yang utama. Badeng terdapat di Desa Sanding, Kecamatan Malangbong, Garut. Dulu Badeng berfungsi sebagai hiburan untuk kepentingan dakwah Islam. Tetapi, diduga Badeng telah digunakan masyarakat sejak masa sebelum Islam dalam upacara-upacara yang berhubungan dengan ritual pemananaman padi.
 
Sebagai seni untuk media dakwah, Badeng dipercaya berkembang lebih besat sejak Islam menyebar di daerah ini sekitar abad ke -16 atau 17. Pada masa itu, dua orang warga Sanding, Arpaen dan Nursaen, belajar agama Islam ke Kesultanan Demak. Sepulangnya dari Demak, mereka berdakwah menyebarkan agama Islam. Salah satu sarana penyebaran Islam yang digunakannya adalah seni Badeng. Angklung yang digunakan dalam perangkat Badeng jumlahnya 9 buah yaitu 2 angklung roel, 1 angklung kecer, 4 angklung indung dan angklung bapa, 2 angklung anak, 2 buah dogdog, 2 bauah terebang atau gembyung, serta 1 kecrek. Teks lagunya menggunakan bahasa Sunda bercampur dengan bahasa Arab. Dalam perkembangan selanjutnya disesuaikan dengan keperluan acara. Selain menyajikanlagu-lagu, pertunjukan Badeng menyajikan pula atraksi kekebalan tubuh, misalnya mengiris tubuh dengan senjata tajam. Lagu-lagu Badeng di antarannya : Lailahailalloh, Yati, Kasreng, Yautike, Lilumbungan, dan Solallohu.

Image Not Found